Everything's lost when I'm with you
Dulu Amoora percaya, kalau yang namanya cinta itu selalu memberi kebahagiaan. Tetapi setelah Amoora bertemu dia, cinta itu ternyata memberikan semuanya, kebahagiaan maupun kesedihan. Semuanya tercampur begitu saja hingga rasanya begitu nyata.
Padahal ini bukan pertama kalinya Amoora merasakan jatuh cinta, yaa dulu gadis itu pernah merasakan hal seperti ini tetapi itu tidak bertahan lama. Meski banyak lelaki yang sempat singgah tapi itu hanya sebatas pendekatan ibarat ketika melihat rumah tetapi tidak sreg yaudah pindah. Kenyamanan yang Amoora cari tidak ada diantara laki-laki yang pernah singgah, yaa apasih yang diharapkan dari kata singgah? Itu cuman bertahan sebentar.
Namun lelaki itu berbeda, dia memberikan semua yang selama ini Amoora cari yang tidak pernah ada di laki-laki lainnya. Ia tidak pernah lelah untuk terus bertahan terhadap semua kekurangan yang Amoora punya.
Kalau ditanya, dia tidak punya kekurangan? Amoora pasti tidak akan setuju dengan itu. Namanya juga manusia pasti ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing tapi itulah yang perlu di sadari dalam suatu hubungan karena keduanya dituntut untuk selalu saling melengkapi kekurangan dari pasangannya, hal ini yang bisa membuat hubungan itu utuh dan dapat bertahan lama.
Banyak hal dihidup gadis satu ini yang semuanya gak baik-baik aja, Amoora juga manusia yang banyak masalah dan kekurangan. Selama ini dia merasa, hidup itu berat banget, ternyata berat karena belum menemukan sandarannya. Semua masalah yang ia hadapi sekarang jadi lebih ringan karena Amoora gak perlu khawatir untuk berjalan maju karena lelaki itu pasti akan selalu ada di belakangnya.
Seperti sekarang, dia membawa Amoora entah kemana sudah terhitung sekitar 15 menit yang lalu mobil ini berjalan tapi tidak ada tanda-tanda akan berhenti di suatu tempat.
"Emang kita mau kemana sih? Lama banget perasaan" tanya Amoora
"Yaa tunggu aja dulu, bentar lagi kita nyampai kok" jawabnya sambil fokus mengendarai mobil.
10 menit menunggu akhirnya kami sampai. Terlihat gedung tinggi menjulang dengan interior luarnya saja sudah terlihat kemegahan gedung ini.
"Kenapa kita kesini?mau ngapain emangnya?" Tanya gadis ini lagi dengan tidak sabaran.
"Saya diundang ke pameran lukisan punya teman saya" ucapnya yang membuat Amoora diam seribu bahasa.
"Tapi- kamu tau kan aku gak bisa lihat lukisan..."
Tubuhnya tiba-tiba bergetar, air mata gadis itu sudah siap-siap jatuh, dadanya semakin sesak ketika mengingat semuanya, semua yang menjadi trauma baginya.
Melukis termasuk sesuatu hal yang dia sukai sehingga setiap Amoora melihat lukisan ia akan terbayang wajahnya yang selalu tersenyum ketika Amoora berhasil melakukan sesuatu. Tetapi sekarang gadis itu tak bisa melihat senyum itu lagi, orang itu meninggalkannya dengan trauma yang ternyata tidak hilang sampai sekarang. Padahal Amoora belum sempat membahagiakan dia sepenuhnya tapi ternyata Tuhan lebih sayang dengannya. Orang itu adalah ayah, seseorang yang menjadi cinta pertama gadis cantik ini, which makes her want to take good care of him like he took care of her when she was little.
Sekelibat kenangan itu muncul di dalam benaknya, gadis itu tak kuasa menahan sesak di dadanya dan akhirnya tangis Amoora pecah. Lelaki itu memeluknya dengan erat agar tangisan gadisnya mereda, setelah cukup lama tangis Amoora mulai mereda walaupun rasanya sesak di dada masih terasa tapi itu tidak separah tadi.
"It's okay, kalo mau nangis gak papa saya juga gak maksa kamu untuk masuk. Kalau misalnya gak bisa gak papa kita bisa coba lain waktu" jelasnya.
Amoora terdiam, dia tidak ingin kenangan itu muncul lagi tetapi jika tidak ia lawan itu akan membuatnya semakin menderita ketika mengingatnya.
"Yaudah ayok kita masuk" keputusan Amoora sudah bulat, dia akan mencoba untuk melawan rasa takutnya.
Dia yang mendengar jawaban gadis itu pun terkejut, dia pikir Amoora akan menolak ajakannya mentah-mentah.
"Kamu yakin? Kalau takut gak papa kita bisa pergi ke tempat lain" tanya ia lagi yang membuat Amoora semakin yakin.
"Tapi nanti kalau misalnya udah gak bisa bilang yaa" Amoora hanya mengangguk mengiyakan.
Ketika sampai di depan pintu gedung gadis itu tarik nafasnya dalam lalu ia hembuskan kembali. Amoora merasakan jari-jari nya yang lebih besar menelusup ke sela-sela jemari gadis ini, di genggamnya tangan Amoora dengan lembut.
Amoora mantapkan langkahnya masuk ke dalam gedung. Ketika ia memasuki ruangan ini, terlihat banyaknya lukisan yang indah terpajang rapi. Semakin dia erat kan genggaman tangannya pada lelaki itu, ia mulai melangkah melihat-lihat lukisan yang terpajang di dinding. Nafasnya sedikit tercekat tetapi dua berusaha untuk tetap tenang supaya paniknya tidak kambuh.
Setelah 10 menit berkeliling ia menyerah, lelaki tersebut membawa Amoora keluar dari ruangan itu. Dengan tangan yang masih terpaut dia secara tiba-tiba memeluk gadis cantik ini.
"Saya bangga sama kamu, you did well walaupun cuman 10 menit tapi itu udah bagus bangettt!" Amoora tersenyum mendengarnya, ternyata ia bisa melewatinya walau sebentar.
"Aku berhasil..." Lirihnya tapi masih terdengar oleh pasangannya itu.
"Yes you succeeded, keep the spirit I will always accompany you if you want, love" tuturnya tulus.
Amoora berhasil...yaa dia berhasil melewatinya walau hanya sebentar tapi itu sudah menjadi pencapaian yang luar biasa karena sejak kepergian ayah ia tidak pernah berani untuk melihat lukisan-lukisan apapun, tapi tadi dia bisa mematahkan ketakutannya selama ini. Itu semua juga berkat bantuan dari lelaki yang selalu berada di sampingnya, menggenggam tangan gadis itu untuk menghilangkan rasa takutnya.
Amoora beruntung memiliki dia. Dia mengajarkan gadis ini segalanya, tentang rasa nyaman, aman, dan tentunya membantu Amoora dalam keterpurukan yang gadis itu alami. Her trauma also started to get better when that boy accompanied her.
Everything's lost when I'm with you.



Azeek
BalasHapus