It's better with them



Dulu Amoora pernah berpikir bahwa sahabat itu hanya sebatas pertemanan yang membuat kita selalu bahagia disaat kita bersama mereka. Nyatanya persahabatan itu bukan hanya soal berbagi kebahagiaan tetapi juga bisa tempat kita berkeluh kesah, mengeluarkan segala hal yang selama ini tertahan di dalam diri kita, entah itu kita sadari atau tidak.

Amoora tidak pernah merasakan yang namanya pertemanan yang begitu dekat, pasalnya sejak ia berusia 10 tahun ia memiliki banyak teman tetapi tidak ada salah satu dari mereka yang ingin menjalin pertemanan yang dekat. Yaa lebih tepatnya teman - temannya mendekatinya hanya karna ia seorang anak dari pemilik perusahaan yang cukup terkenal di Indonesia.

Tetapi setelah memasuki masa perkuliahan gadis itu bertemu dengan Zetta dan Kaivan. Amoora mengira awalnya Zetta dan Kaivan tidak akan jauh berbeda dengan teman-temannya yang sebelumnya hanya memanfaatkan kekayaannya saja, tetapi setelah lama berteman ternyata mereka tidak ada niatan untuk memanfaatkan dirinya.

Banyak orang mengatakan kalau masa SMA itu adalah masa yang paling menyenangkan, tetapi Amoora tidak setuju karena menurutnya masa kuliah lah yang menyenangkan. Berteman dengan Zetta dan Kaivan sangat menyenangkan, ia bisa tertawa hanya dengan kelakuan keduanya yang hanya bisa membuat orang lain malu melihatnya. Seperti yang mereka lakukan saat ini, lihatlah mereka sudah bernyanyi sejak 15 menit yang lalu di depan kelas untung saja kelas ini sedang tidak ada dosen kalo tidak yaa udah nasib.

"Isshh udah ah gak enak kedengeran sama orang" keluh Amoora, karena ia dari tadi sudah tidak tau lagi bagaimana cara menghentikan dua manusia gak jelas ini.

"Ihh padahal asik ayok ikut nyanyi ra"

Padahal tadi Amoora udah menghindari untuk bernyanyi seperti itu lahh malah di ajakin ikut, emanglah ajaib dua manusia ini.

"Gak ah males mending gue baca buku aja" tolak Amoora.

Tak terasa kelas pun selesai, jadilah ketiganya pergi ke kantin untuk menyantap maksi mereka alias 'makan siang'. Sesampainya di kantin mereka duduk di bangku yang untungnya masih tersisa.

Selama menunggu pesanan mereka datang, mereka sibuk dengan pembahasan yang unfaedah contohnya seperti sekarang.

"Besar upil gajah kira - kira sebesar apa yak?" Celetuk Zetta.

"Lo kalo mau bikin orang nambah pening kagak usah nanya yang aneh-aneh dehh, jujur gue capek dengan otak lo tuh" sanggah Kaivan.

"Ehh tapi serius gue jadi kepikiran juga dah" ucap Amoora menimpali.

"Lah?!?!! Lo kalo kata gue gak usah ikut ikutan juga dah, ni nih gue yang gak sukanya kalo si Amoora ini udah ada tanda-tanda bakalan ketularan gilanya Zetta, CAPEK GUE CAPEKK!" Protes Kaivan dengan menggebu-gebu.

"Kayak lo gak gila aja" timpal Zetta

"Nahh iya, perlu kaca gak Van?" Ucap Amoora yang membuat Kaivan semakin emosi.

"Gue udah ngaca dan gue ternyata ganteng jadi gue gak perlu lo kasih kaca" ucap Kaivan malas.

"DIHH??!!?! PEDE BETOLLL" semprot Amoora dan Zetta bersamaan.

Jujur sebenarnya Amoora udah gak kuat dengan kelakuan Kaivan ini yang memiliki tingkat kepedean yang sangat amat melewati batas kewarasan manusia.

"Tapi gue pikir lagi, kenapa yaa gak ada orang yang suka sama kalian? Kayak misalnya ada yang suka sama Zetta gituu atau cewek yang suka sama Kaivan, gue aja ada yang suka pun gue masih ngerasa gak pantes" tanya Amoora.

Zetta dan Kaivan yang mendengarnya pun hanya bisa terdiam.

"Ra... Gak perlu lo pikirin banget tentang itu, kesukaan orang itu berbeda-beda yaa walaupun kita menganggap diri kita sendiri baik tapi orang lain belum tentu melihat kita sama. Tapi satu hal yang perlu, apapun kata orang-orang jangan terlalu di pikirkan cukup jadi diri kita sendiri aja, lagian lo sama si onoh juga hubungannya baik-baik aja gue liat-liat yaa intinya lo gak perlu ragu" jelas Zetta.

"Nahh betul" ucap Kaivan.

"Kalo lo ngikutin ucapan orang-orang itu hanya bakal buat lo keras dengan diri sendiri karena lo maksa diri lo buat berubah sesuai apa dengan yang orang lain bilang, itu yang bakalan buat kita lebih stress sooo no need to listen to what people say, just be yourself it will make us happy" lanjut Zetta. 

"Nah betul" ucap Kaivan lagi.

"KAIVAN LO BISA DIAM GAK?!?!! Merusak suasana aja lo mah" ucap Zetta emosi, pasalnya Kaivan ini dari tadi cuman bilang 'ya', 'betul' doang gak membantu banget.

Tapi apa yang di katakan oleh Zetta itu benar. Di dunia ini tidak ada yang sempurna tapi kita harus bisa menjadi lebih baik untuk kedepannya, berubah itu bukan karena ucapan orang tapi ada kemauan dalam diri kita sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. 

Hal seperti inilah yang Amoora sukai dari kedua temannya. Walaupun kelakuan mereka di luar nalar tapi ketika mereka menyemangati satu sama lain inilah yang membuat Amoora merasa aman dan nyaman berada di dekat Zetta dan Kaivan. Keduanya bisa membuat Amoora mengerti rasanya memiliki penyemangat ketika ia merasa terpuruk dan begitu pun sebaliknya dan juga mereka akan selalu menyemangati gadis itu agar tidak perlu ragu dalam hubungan yang di jalaninya sekarang.

Bagi Amoora, Zetta dan Kaivan sudah seperti saudaranya sendiri yang membuat Amoora selalu ingin berada di dekat mereka. 

Cause they're the place where Amoora complains about the relationship she is in


















Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer